VISIONARE

Blog

Eastern Promise (Part 2)

By Andandika Surasetja
(Article is in Indonesian)

Setelah mengulas sejumlah nama pada bagian pertama, masih dalam misi penjelajahan di pelosok Asia, kita akan menemukan lebih banyak talenta baru yang siap menggebrak panggung mode dunia.

4. Edmund Ooi - Malaysia

Lahir di Malaysia pada 1987, Edmund Ooi dibesarkan dalam lingkungan keluarga penjahit. Terinspirasi dari profesi orangtuanya, Edmund pun melanjutkan titah tak tertulis dalam menggeluti industri pakaian. 

Setelah lulus dari sekolah mode di Kuala Lumpur dengan berhasil meraih penghargaan sebagai ‘Most Promising Designer’ and ‘Best Avant-garde Designer’ pada usianya yang ke 19, Edmund pun memutuskan untuk hijrak ke Antwerp di belgia untuk mempertajam keahlian dan menambah pengalaman dengan mengambil studi di Royal Academy of Fine Art. Tak lama berselang, ia pun berkolaborasi dengan Mugler di Paris setelah dua tahun bermukim di Antwerp. Peluang itu pun semakin mempertajam karakteristiknya yang khas.

 

5. Facetasm - Japan

Lulus dari Bunka Fashion College di Tokyo, Hiromichi Ochiai merilis label Facetasm pada tahun 2007. Setelah mempertontonkan koleksi Spring /Summer 2012 di Tokyo, brand rintisannya pun menyabet sebuah penghargaan ‘New Face Award’ dalam The 31st Mainichi Fashion Grand Prix Prize. 

Pada 2015, ia mempertontokan runway collection pada ajang Milan Men’s Fashion Week at ARMANI/TEATRO untuk musim Spring/Summer 2016 yang disusul dengan koleksi musim Spring/Summer 2017 di Paris, sementara Hiromichi terpilih sebagai salah satu finalis untuk penghargaan paling bergengsi di dunia perancang mode ‘LVMH Young Fashion Designer Prize’.

 

6. Ground-Zero – Hongkong

Merupakan sebuah brand bernapaskan aliran kontemporer yang didirikan oleh designer duo slash kakak-beradik, Eri dan Philip Chu pada 2008. Eri memiliki latar belakang pendidikan graphic design di Hong Kong dan mendalami bidang fashion dengan bekerja sebagai asisten di sebuah tailor shop. Eri pun mulai mengaplikasikan kemampuan grafisnya pada berbagai produk garmen, yang secara natural membentuknya menjadi seorang fashion focused graphic designer. 

Sementara itu Philip, sengaja mendalami pendidikan desain mode di London. Dimulai dengan eksperimentasi terhadap basic tees sejak masih duduk di bangku kuliah pada 2003, Philip terus menerus melakukan eksplorasi desain dan teknik untuk mendapatkan sebuah bentuk baru yang unik dan berkarakter kuat.