VISIONARE

Blog

Fashion Rants: Sweaty Journalism

By Andandika Surasetja
(Article is in Indonesian)

Sebagai seorang penulis jebolan institusi akademik level nasional yang mengibarkan panji jurnalistik – beragam intrik lenggak-lenggok dari panggung mode tak pernah dianggap sebagai isu seksi. Justifikasinya sederhana: tak seperti kasus ekonomi, politik, serta hukum dan kriminal yang bergantian jadi headline setiap hari, berita fashion seringkali dianaktirikan – sekedar menjadi sisipan; hanya muncul di halaman belakang koran saat akhir pekan.

Sampai-sampai suatu ketika saya diusir dari kelas penulisan berita khas dengan topik peristiwa ekonomi. Tulisan saya dianggap “tidak berkeringat”. Alih-alih liputan unjuk rasa di depan kantor gubernur soal meroketnya harga cabai merah dan membumbungnya harga beras seperti teman-teman ‘pintar’ yang lain, saya lebih memilih untuk mengangkat berita soal pergelaran mode di hotel bintang lima yang menampilkan rangkaian gaun dari Perancis dan Italia seharga ratusan juta rupiah.

Senjata saya berada pada twisted-angle. Saat sebagian besar orang kepusingan soal minta naik upah dan besok-aku-makan-apa, di sisi sebelah sini selalu ada segelintir orang yang bisa tetap foya-foya dalam balutan busana paling trendi dengan jemari lentik mengapit tangkai champagne flute dan berbisik “Krisis? Apa itu?”.

Oh wow, bukankah level kontras yang saya sajikan begitu menggoda untuk dibaca? Pun saat berbicara soal sisi ekonomi, semua objek yang saya soroti memiliki deretan angka nol yang lumayan panjang bukan?

Tapi rupanya memang tidak ada tempat untuk bahasan mode dari ruangan berpendingin saat jeritan rakyat sedang panas-panasnya ya... Elemen-elemen news value sepertinya luruh begitu saja terbakar semangat proletariat, karena bagi para penganut paham jurnalisme garis keras ya selalu soal pelik-pelik panggung politik dan kawan-kawan. Cadas. Saya pun mendapat titah revisi. “Jangan pernah tulis berita dari liputan tanpa keringat!”

Oh baiklah kakak, mungkin saya harus liputan sambil lari-lari keliling GBK di siang bolong. Begitu?

Singkat cerita selama 9 semester mengenyam pendidikan Jurnalistik, intinya tetap tak ada ruang bagi anak-anak yang punya mimpi jadi jurnalis mode di tanah air. Di sini yang ada cuma cetakan untuk jadi wartawan Kompas dan wartawan Tempo dengan pola didikan yang menanamkan pemikiran bahwa pencapaian tertinggi sebagai seorang kuli tinta adalah berangkat ke Jalur Gaza buat liputan tembak-tembakan.

Jadi, yang mimpinya nulis-nulis cantik setelah terbang naik kelas bisnis ke New York, London, Paris, dan Milan buat duduk di front row, (Eh, udah kegusur bloggger juga ya sekarang ? Harus duduk di belakang dehhuh.) sekedar mengingatkan saja. Kalau mau kuliah ya harus di luar negeri nih kayaknya.

Kalau tidak punya duit ya terima nasib. Sip.