VISIONARE

Blog

Fashion and Music: Opposites Attract or Opposites Collide?

By Anishka Syafrani
(Article is in Indonesian)

Anishka Syafrani membahas bagaimana musik mempengaruhi fashion dan begitu juga sebaliknya. And there's a lot fun facts! 

Ketika Madonna bernyanyi, “Express yourself,” ia tidak hanya berbicara tentang musik. Madonna menjadi MADONNA karena ia mengekspresikan dirinya secara total; lewat musik, attitude, dan fashion. Dalam dunia hiburan ketiga hal tersebut membentuk pencitraan seorang musisi. Seringkali pesan yang ingin disampaikan melalui lirik lagu ikut terpancar lewat aura gaya berpakaian mereka.

Bersama Michael Jackson, David Bowie, Prince, Cyndi Lauper, Cher, Björk, Madonna adalah ikon fashion danmusik. They are fearless and fashionable, daring and entertaining. Hingga kini album greatest hits para legenda tersebut masih dinikmati jutaan fans – begitu pula dengan gaya fenomenal mereka yang menginspirasi generasi pop berikutnya. Bukti bahwa musik dan fashion menjadi satu kesatuan yang sulit dipisahkan.

Sebagian merasa bahwa era musisi flamboyan sudah meninggalkan kita. Sebenarnya sisa-sisa masa itu masih terasa. Hanya jika setiap orang yang ditemui di jalan tahu siapa Prince, tak semua mengenal sosok Grimes. Atau Karen O. Lady Gaga, mungkin. Musisi dengan selera fashion unik dan sukses di tangga lagu masih bisa dihitung dengan jari. Fashion tetap dianggap elemen penting yang mendorong popularitas hanya saat ini cenderung dibuat dalam bentuk kolaborasi. Tinie Tempah x Disturbing LondonGwen Stefani x L.A.M.BRihanna x PumaWhether is a hit or a miss, kolaborasi popstar dengan desainer top pasti meningkatkan brand awareness. Yang jelas tren ini tak akan usai dalam waktu dekat.

Situs Businesss of Fashion menyatakan bahwa “fashion layaknya pedang dua sisi bagi musisi” Artinya fashion berpotensi memberikan dampak negatif dan bukan sebaliknya. Azelia Banks, misalnya. Rapper kontroversial yang di awal kariernya dipuji karena dianggap mirip dengan Neneh Cherry. Namun seiring kepopulerannya naik, Banks tergiur dengan label-label eksklusif sampai ia kehilangan unsur original street style a la New York yang merupakan ciri khasnya. Lalu di mana batas yang membuat penggabungan musik dan fashion menjadi opposites attract?

Transformasi memang dibutuhkan karena musisi ataupun public figure lainnya dituntut tampil sempurna. Tapi kini masyarakat modern semakin mudah mengakses fashion. Sumber inspirasi datang dari seluruh penjuru dunia dan dikemas dalam wadah bernama Instagram. Pencinta musik semakin cerdas dan paham mana musisi yang menikmati fashion sebagai bentuk ekspresi dan mana yang hanya mengikuti arus tren (atau lebih parah, sekedar mengikuti instruksi agensi label yang mengontrak mereka) Björk yang selalu tampil all out adalah contoh sempurna bagaimana meleburkan fashion dan musik menjadi satu identitas yang saling mendukung. Fans dapat mengandalkan Björk untuk memberikan konser teatrikal yang menghanyutkan dan lain daripada yang lain.

Ketika Karen O beraksi di panggung bersama Yeah Yeah Yeahs, aura cool terpancar dari dirinya, tak peduli seberapa unik dan gila kostumnya saat itu. Kamu tak pernah tahu apa yang akan kamu dapatkan dari Karen dan ada sesuatu yang menarik dari hal itu. Grimesanother musicians turns fashion darling, juga samaDengan rambut warna-warni dan gaya yang didekskripsikan Elle sebagai ‘alternative chic’, kedatangannya memberi nafas baru di budaya pop modern.

Grimes berasal dari aliran electro-pop yang telah melahirkan dan meluncurkan Lady Gaga ke panggung dunia. Awalnya tak semua masyarakat mau menerima Gaga dan beberapa meremehkan ia hanya mengandalkan penampilan semata. Toh, Gaga membuktikan kemampuan vokalnya ketika tampil di panggung Oscar tahun lalu. Meski Gaga mengenakan gaun yang terlihat ‘normal’ dibanding kostum-kostumnya yang lain, toh Gaga tidak kehilangan apa yang membuat dirinya menjadi LADY GAGA. 

Maka di saat beberapa musisi lain masih mencari jati diri fashion, beberapa sudah menemukannya. Seperti M.I.A yang melawan arus dan menolak mengenakan Dior atau Chanel. “Aku merasa terkejut ketika M.I.A mengatakan padaku ia tidak ingin mengenakan label mewah karena fansnya tidak mampu membeli dan tak merasa punya ikatan dengan label-label besar,” kata Guillaume Boulez, creative director The Wild. Ia menunjukkan ada banyak cara untuk membuat statement dengan fashion tanpa kehilangan identitas. Seperti Yuna, penyanyi Malaysia yang dengan bangga tetap mengenakan jilbab sambil menata karier di panggung internasional. Justru jilbabnya kemudian menjadi ciri khas Yuna yang membuatnya menonjol di genre R&B.

Untuk menjadi style icon kamu tak perlu ekstrim mengenakan gaun angsa a la Björk atau gaun daging a la Lady Gaga. Gianni Versace menguraikannya dengan sempurna: “Jangan ikuti tren. Jangan biarkan fashion memilikimu. Putuskan siapa dirimu dan apa yang ingin kamu ekspresikan melalui caramu berpakaian dan caramu menjalani hidup.”