VISIONARE

Blog

Fashion War: Fast Fashion vs Slow Fashion

By Andandika Surasetja
(Article is in Indonesian)

Industri pakaian jadi yang kini didominasi oleh model bisnis berkonsep Fast Fashion, menghadapi tantangan zaman yang dikomando oleh paham Slow Fashion. Cepat atau lambat perang dunia di bisnis fashion pun akan pecah, siapakah yang sanggup bertahan? Andandika Surasetja menganalisa problematika ini.

Semenjak fashion retailers Eropa seperti Zara dan H&M berlomba-lomba membawa gaya dan tren terikini dari panggung mode ke gerai yang tersebar di seluruh dunia dalam tempo secepat-cepatnya, Fast Fashionpun seketika merajai industri pakaian. Fast Fashion awalnya dipuji-puji sebagai model bisnis inovatif berkat manajemen supply chain – jaringan produksi serta distribusi yang efektif dan efisien. Namun saat satu demi satu “dosa” Fast Fashion terkuak, kekecewaan di sisi konsumen yang memiliki kepedulian serta para aktivis dan pengamat pun tak terhindarkan.

Isu yang mencuat ke permukaan ialah bahwa Fast Fashion dinilai melakukan praktik yang menerobos serangkaian kode etik; mulai dari perburuhan hingga persoalan lingkungan. Di saat fokus bisnis ada pada perlombaan memasok stok untuk ribuan butik di berbagai negara lintas benua dengan produk sesuai tren, pengerahan tenaga buruh murah di negara dunia ketiga seperti Bangladesh, Kamboja, dan (tentu saja) Indonesia pun menjadi kartu As. Yang sayangnya. Pihak produsen seringkali mengabaikan permasalahan keselamatan, jam kerja, dan upah layak bagi para buruh.

Belum lagi envionmental issue. Salah satu kasusnya dapat dipelajari dalam hasil Investigasi Greenpeace Internasional tahun 2012 yang mengungkap limbah industri pakaian sebagai penyebab kerusakan ekologis di sejumlah sumber mata air utama yang mengaliri Pulau Jawa.

Bermacam konflik yang merupakan efek samping dari model bisnis Fast Fashion menjadi harga yang terlalu mahal – amat sangat mahal untuk pakaian yang usianya tidak sampai tiga-empat bulan. Bukan hanya soal kualitas pabrikan yang kelak melar di sana-sini tapi juga karena desain dan potongan yang sifatnya musiman. Seiring dengan tren yang berlalu, kaos, kemeja, atau celana yang sudah ‘gak jaman lah ya’ otomatis akan berakhir di tempat sampah.

Menilik dampak negatif yang ditimbulkan, tentu bukan hal mengejutkan jika perlawanan atas Fast Fashionsemakin bergaung. Melalui model bisnis dengan visi-misi yang 180 derajat bertolak belakang – sebuah pergerakan dengan sebutan Slow Fashion memulai peperangan.

Prinsip “Karena waktu adalah uang” bisa jadi merupakan salah satu alasan mengapa Fast fashion menjadi begitu dominan di industri pakaian. Model bisnis ini memang dirancang untuk semata-mata mengandalkan kecepatan untuk meraup keuntungan dengan memanfaatkan pola konsumsi beli-pakai-buang. 

Sementara itu Slow fashion justru menjadi sebuah antidot yang memecah kejengahan di tengah terpaan arus utama – karena kecepatan terkadang melelahkan. Jika produk Fast fashion dianalogikan sebagai makanan dari restoran cepat saji, maka hasil dari Slow fashion ialah masakan rumahan: yang setiap komponennya diperhatikan dengan teliti agar kaya gizi dan dibuat sepenuh hati. 

Pergerakan ini digagas oleh sejumlah desainer dan label yang menjual kualitas di atas kuantitas. Kecepatan produksi bukan menjadi prioritas, melainkan komitmen pada praktik kerja yang ideal serta daya tahan produk yang dapat dipertanggungjawabkan  – sepadan dengan harga yang dibayarkan.

Lantas akankah Slow fashion akan mengambil alih dan mencetuskan sebuah revolusi besar-besaran? Mungkin tidak akan tiba-tiba. Karena kuncinya tetap ada pada kesadaran pasar. Namun harapan itu ada! Berdasarkan survey yang dilakukan di Inggris melalui portal YouGov Poll diperoleh hasil yang mengindikasikan bahwa konsumen rela membayar sedikit biaya lebih untuk jaminan praktik produksi yang sesuai dengan kode etik. 

Hasil jajak pendapat yang dirilis pada akhir tahun 2013 tersebut menyebutkan bahwa 74% responden dari Inggris bersedia untuk membayar ekstra 5% jika mereka mendapat garansi bahwa para buruh untuk label tersebut mendapatkan bayaran yang layak dan bekerja dalam kondisi yang aman.

Penerapan model bisnis Slow fashion salah satunya diinisiasi oleh Zady yang bermarkas di Kota New York. Dua pendiri label Zady, Maxine Bédat dan Soraya Darabi memberi jaminan bahwa setiap produk yang mereka pasarkan telah terbebas dari eksploitasi pekerja dan pabrik berpolusi, serta tak akan buru-buru berakhir di tong sampah. Secara gamblang official website zady.com mendeklarasikan: to combat the fast-fashion craze by providing a platform for only those companies that care about timeless style and solid construction.

Pun pergerakan revolusi mode secara global pun tercetus, melalui situs fashionrevolution.org tersiarlah kampanye “Who Made My Clothes” yang mengusung misi: We believe in fashion – an industry which values people, the environment, creativity and profits in equal measure, and it’s everyone’s responsibility to ensure that this happens.

Namun pertanyaan besarnya, adakah irisan antara Fast fashion dan Slow fashion – karena bagaimanapun juga, Fashion selalu mendambakan sesuatu yang baru... Bukan instan. Kita hanya menginginkan berbagai keindahan dalam beragam bentuk yang belum pernah ada sebelumnya.