VISIONARE

Blog

I Love You, Mr. Anderson

By Perkasa Kusumah Putra
(Article is in Indonesian)

Sebagai seorang editor, stylist, jurnalis dan konsultan, saya tentunya tak boleh bias terhadap sebuah koleksi ataupun seorang perancang busana. Saya harus bisa memilih apa yang bagus dan apa yang memang tidak bagus, terlepas dari faktor-faktor X lainnya seperti apakah saya menyukai sang desainer yang merancang rangkaian koleksi tersebut ataupun rasa tidak suka terhadap lini mode yang mengeluarkan koleksi tersebut. Intinya kalau memang bagus ya saya harus bilang bagus, dan jika tidak bagus ya tidak bagus. Namun tentunya sebagai seorang manusia, terkadang logika pun kalah terhadap rasa; there are some designers where I just can’t say no to. I can never say their collection is ugly even though maybe it is ugly. In my eyes, they can do no wrong. J.W. Anderson adalah salah satu desainer tersebut.

Desainer asal Irlandia yang selama beberapa tahun terakhir ini mencuri nyaris seluruh perhatian para pengikut dan pecinta mode, terlebih lagi dengan revitalisasi nya terhadap rumah mode klasik asal Spanyol LOEWE menjadi salah satu desainer favorit saya sepanjang masa. Saya bisa menjabarkan ratusan alasan mengapa saya menyukainya, but let me put it bluntly; he’s uber talented and he’s easy on the eye too(genit). Menurut saya ia bukan hanya desainer semata, namun ia adalah seorang visioner yang dapat mendobrak berbagai macam batasan di dunia mode.

Lihat saja rancangan-rancangan busana prianya, yang seringkali memasuki teritori pakaian wanita; Ia adalah salah satu desainer pertama yang mengedepankan estetika androgyny kedalam koleksi busana pria, which I love! Saya pun berkesempatan untuk melihat koleksi debut nya untuk LOEWE di Paris beberapa tahun yang lalu, dan saya juga berkesempatan untuk bertatap muka dengannya bulan lalu, and let me tell you, as far as designer goes, he was one of the nicest person I have ever met! Which makes me loves him even more. 

Bukan hanya itu saja, bagi saya ia layaknya Raja Midas, where everything he touches turns into gold. Hal tersebut pun terbukti nyata melalui rejuvenasi rumah mode Spanyol LOEWE, rumah mode produsen produk leather yang sebelumnya seolah “mati segan hidup tak mau” ini pun berubah 180 derajat dibawah naungan Mr. Anderson. Koleksi demi koleksi nya pun diterima baik oleh nyaris seluruh pecinta dan juga kritikus mode dunia. Dibawah arahannya, LOEWE pun berubah menjadi sebuah rumah mode modern yang sesuai dengan perkembangan tren di abad 21 ini, dan juga berkembang menjadi a full-fledged fashion house, bukan hanya produsen leather goods semata. He was the perfect, albeit unpredictable, creative director for the house.