VISIONARE

Blog

I Think They Put Something in The Waters of Holland

By Perkasa Kusumah Putra
(Article is in Indonesian)

Jika dibanding dengan sejumlah negara Eropa lainnya, Belanda mungkin bukan menjadi nama yang muncul dibenak ketika sedang berbicara tentang negara mode. Begitu juga Amsterdam, ibukota Belanda yang tentunya kalah dalam masalah permodean jika dibandingkan dengan Paris ataupun Milan. Bukan hanya itu saja, sudah menjadi sebuah stereotip tersendiri bahwa para penduduknya pun bukan orang-orang yang pandai bergaya. Namun, apakah Anda yakin bahwa Belanda bukanlah negara mode sesungguhnya? Mungkin iya, jika Anda hanya melihat secara mendasar. But dig deeper and you will see that Holland produced three of the most talented designers of the 21 century. Lantas, siapakah ketiga nama tersebut? Yang dengan kemampuannya dalam menggubah rancangan demi rancangan yang sangat out-of-the-box mampu menaikan status negara Belanda menjadi sebuah negara mode yang tak kalah dengan negara-negara mode utama lainnya?

Iris van Herpen, Viktor Horsting dan Rolf Snoeren. Memang masih banyak lagi tentunya desainer-desainer asal Belanda yang turut membangun industri mode negara tersebut; namun tidak ada lagi sosok desainer yang lebih berpengaruh ketimbang tiga orang tersebut. Lihat saja rancangan-rancangan Iris van Herpen yang digubah menggunakan teknologi-teknologi tinggi; yang tak pernah dipakai perancang busana lainnya. Hal tersebut tentu membuat dirinya menjadi seorang pionir dalam gaya busana futuristik abad 21. Lihat saja kreasi-kreasi adibusana tingginya yang ia tampilak tiap tahun. Seringkali saya berdecak kagum dan menggaruk kepala kebingungan ketika sedang melihat rancangan-rancangannya. Pakaian-pakaian tersebut lebih cocok digunakan sebagai kostum film-film layar lebar yang mengambil setting di futuristis ketimbang tampil berlalu lalang di atas panggung catwalk. Rancangan-rancangan yang sangat highly imaginative tersebut pun seolah memberikan kita secercah pandangan terhadap gaya berpakaian manusia di masa depan. I’ve always said to myself, “if I ever won the lottery, I would totally be her couture customer, buy all her creations and put it safely behind a glass case;” layaknya karya seni kontemporer.

Namun, jika saya harus memilih siapakah desainer asal Belanda favorit saya, saya tentunya akan sangat kebingungan. Karena duo Viktor Horsting dan Rolf Snoeren juga menjadi salah dua desainer favorit saya sepanjang masa. Other than Nicholas Ghesquièremereka lah dua sosok yang memperkuat ketertarikan saya dengan fashion. Bagaimana tidak, koleksi demi koleksi yang digubah sedemikian rupa rancangan mereka pun seolah mendobrak batasan-batasan antara mode, seni dan juga fantasi. Jika Anda tidak percaya, lihat saya koleksi adibusana musim gugur 2015 mereka. 

Pagelaran mode dengan panggung catwalk yang kosong dan juga dipresentasikan tanpa lagu tersebut pun diisi dengan model yang berlalu lalang menggunakan pakaian yang menyerupai lukisan-lukisan. Ketika para model kembali ke belakang, sang duo desainer yang hadir diatas panggung pun melepas pakaian-pakaian tersebut dari badan para model dan memasang pakaian-pakaian tersebut ditembok; layaknya sebuah lukisan! Begitu juga dengan koleksi couture musim semi 2016 mereka, yang menggabungkan figur-figur khas gaya seni Cubism dengan siluet-siluet pakaian khas mereka. Koleksi yang keseluruhannya berwarna putih tersebut menjadi koleksi favorit saya tahun itu. The closing of their ready to wear division in 2015 after 14 years in business was to me, the most harrowing fashion moment that year. Not only because we lost one of the greatest RTW brand in history, but also meant that their creation is now out of reach from the majority of their fans.

Perlu Anda ketahui bahwa saya tak begitu suka melihat video-video pagelaran mode; they bore me. Namun saya tak pernah melewatkan kesempatan untuk melihat fashion show mereka. I really think they put something in the water of Holland, because for someone to be that amazing is beyond me!