VISIONARE

Blog

Enough With the Obsession of Couture Drama!

By Perkasa Kusumah Putra
(Article is in Indonesian)

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk menghadiri sebuah pagelaran mode adi busana tinggi seorang desainer Indonesia. Desainer yang namanya ikut turut mengharumkan nama bangsa ketika rancangannya dipakai oleh seorang selebriti dunia untuk majalah ternama Amerika tersebut pun koleksinya selalu diterima baik oleh para kritikus mode. Hasil rancangannya selalu memiliki nilai craftsmanship dan juga intricacy yang sangat tinggi. Lantas, saya jadi penasaran dengan koleksi yang bertajuk koleksi couture pertamanya di Indonesia.

Tentunya, seperti para perancang busana lainnya, pagelaran mode tunggal menjadi sebuah representasi sang desainer dan karya-karyanya. Oleh karena itu segala sesuatu harus sempurna dan spektakuler. Lantas, alangkah terkejutnya saya ketika belum ada lima menit pertunjukan di mulai, rasa jenuh yang tinggi pun sudah menghinggapi. “Is this going to be another stuck-in-the-2000s kind of couture show?” tanya saya. And boy I was right.

Pertunjukan couture adalah saat dimana sang desainer dapat menunjukan kebolehannya dalam merancang dan menggubah sebuah koleksi yang sangat out-there, tak perlu peduli dengan daya jual; daya unik dan daya tarik yang penting. Namun apakah sebuah pertunjukan couture harus selalu penuh dengan unsur drama yang seolah memamerkan angan-angan kemegahan sebagai satu-satunya wow factor? Please. Ini bukan tahun 90an ataupun 2000an bukan? Era John Galliano dengan pertunjukan adi busana tinggi yang dramatis sudah lewat. Masih jaman yah visual ala-ala distopia dan lagu-lagu Gregorian chamber music yang seolah mengingatkan kita terhadap kastil-kastil di Britania Raya?

Saya tidak berkata bahwa koleksi sang desainer yang saya saksikan itu jelek ataupun membosankan, koleksi tersebut pun memang sangat bagus (even though I can pinpoint every single designers that he cop.. Oops, I mean took inspiration from). Namun couture tak harus selamanya drama bukan? Coba Kamu tilik balik koleksi-koleksi couture selama beberapa tahun ke belakang, tentunya tetap ada yang merancang gaun penuh detil dengan train 15 meter kebelakang, namun di luar sana, couture tak selamanya gaun-gaun ekstravaganza bukan? Trend and market has shifted, not everybody who has the means to do so wants to buy a $300,000 dress that looks like a wedding gown. Apakah modernitas tak ada artinya bagi para perancang busana Indonesia? Apakah di pandangan mereka, adi busana tinggi harus selalu berisikan gaun-gaun panjang dengan aksesoris kepala menjuntai-juntai? Jika memang itu adanya, saya rasa mereka harus mencari inspirasi lebih banyak dan juga membuka mata mereka lebih lebar.