VISIONARE

Blog

“I heard he said… But it’s true!"

By Perkasa Kusumah Putra
(Article is in Indonesian)

Dunia mode, yang penuh dengan segala drama dan problematika ini tentu memiliki segudang kabar burung yang silih berganti. Apalah artinya sebuah bidang jika tak didampingi dengan berbagai macam berita-berita berbumbu; tak seru bukan? Tentunya Anda para pengikut mode setia, I assume, seringkali mendengar berbagai macam isu-isu tentangnya, entah itu dari laman-laman situs terkemuka maupun dari berita-berita yang beredar di antara pertemanan.

Seperti gosip-gosip lainnya, banyak yang benar namun banyak juga yang tak lebih dari ucapan belaka. Namun disini saya ingin menulis sejumlah gosip-gosip per-fashion-an legendaris yang terbukti benar adanya. ‘Berita-berita’ ini mungkin belum pernah Anda dengar sebelumnya, namun sudah menjadi semacam rahasia umum diantara para pelakon mode, terlebih lagi bagi mereka-mereka yang telah bekerja di industri tersebut selama beberapa dekade. Lantas, apakah sejumlah “proven gossip” tersebut? Sebut saja dari seorang model ternama yang membeli koleksi kelulusan seorang desainer legendaris yang pada akhirnya mengakhiri hidupnya secara tragis, hingga seorang desainer pre-war yang harus menjual sisa-sisa gubahannya secara grosir. 

1. The Ballad of Isabella and Lee

Persahabatan seorang Alexander McQueen dan supermodel Isabella Blow tentunya sudah menjadi sebuah perbincangan seluruh dunia. Kematian Isabella seringkali disebut sebagai salah satu pemicu depresi sang desainer, yang mana menjadi alasan utama untuk ia mengakhiri hidupnya secara tragis. Namun apakah Anda tahu mulai persahabatan mereka? Hubungan yang terjalin hingga akhir hidupnya itu pun dimulai ketika Lee (sebagaimana Alexander McQueen dikenal dikalangan pertemanannya) menampilkan koleksi kelulusannya di London. Isabella yang menjadi salah satu pengunjung pagelaran modenya itu langsung jatuh cinta dengan seluruh rancangannya; she loved the collection so much she decided to buy the entire graduation collection! On an installment plan where she pays him on a weekly-basis! And from there, a legendary friendship is born.

2. Did You Just Call Me A Fatty, Sir?!

Nama Charles James mungkin terdengar asing ditelinga, namun ia seringkali dianggap sebagai “the greatest dressmaker in the world” oleh desainer-desainer legendaris seperti Christian Dior dan Cristòbal Balenciaga. Namun a great talent doesn’t necessarily mean he possessed great manner. Sebuah keresahan terjadi ketika salah seorang pelanggan setianya, yakni Anne Parsons the Countess of Rosse mendatangi butiknya yang terletak di Bruton Street, London. Ia berkunjung dengan seorang sahabat, a rich American woman who’s about to shop like there’s no tomorrow at his store. Namun apakah Anda tahu apa yang terjadi selanjutnya? Sang desainer menghampiri kawannya, took one long look and said, “I couldn’t dress a fat frump like that”. Bayangkan jika hal seperti itu terjadi di era sekarang, it would be a front-page material!

3. The Generosity of Coco

Siapa yang tak kenal dengan nama Coco Chanel. Siapa pula yang tak kenal dengan rancangan-rancangannya yang menjadi favorit para pecinta mode seluruh dunia, sepanjang masa. Tanpanya, ‘little black dress’ yang seringkali disebut-sebut sebagai salah satu pakaian yang harus dimiliki seluruh wanita pun tak akan tercipta. Her love for beautiful women is one of the key aspects of her entire creations too. But who would’ve thought that her love for beauty actually benefited someone directly? Seorang aktris asal Austria, Romy Schneider menjadi wanita yang paling beruntung ketika Coco Chanel, one of the most sought-after designer at that time decided to dress her for free, forever because of her beauty. Now who said being pretty doesn’t come with its’ own perks?

4. Couture as Rags

Siapa yang tak tahu nama Paul Poiret? Seorang couturier legendaris yang mana kontribusinya untuk dunia mode seringkali disamakan dengan kontribusi Picasso untuk dunia seni rupa; hence earning him the nickname “Picasso of the fashion world”. Ia disebut-sebut sebagai desainer paling berpengaruh sepanjang sejarah mode modern. Namun di awal Perang Dunia pertama, ia harus meninggalkan rumah modenya untuk ikut berperang. Ketika ia kembali di tahun 1919, rumah mode kejayaanya sedang diambang kebangkrutan. Hadirnya desainer-desainer dengan rancangan yang modern dan juga kualitas gubahan yang lebih tinggi seperti Coco Chanel lebih sesuai untuk era tersebut dibanding dengang rancangan-rancangan rumit khas nya. Segala macam upaya pun ia lakukan untuk mempertahankan rumah modenya. Namun tanpa bantuan rekan-rekan usaha dan juga hutang yang semakin menumpuk, ia pun harus menutup rumah modenya di tahun 1929; selling its leftover stocks by the kilograms as rags.

5. Rick/Martin Connection 

Mungkin Anda tak akan membayangkan kesinambungan dua desainer yang namanya saya sebut diatas. If you look at it from the surface, tentunya dua desainer tersebut memiliki estetika yang sungguh berbeda. Mungkin satu-satunya hal yang mirip dengan keduanya adalah garis desain garda depan yang membuat mereka menjadi salah dua perancang mode paling terkemuka. Namun apakah Anda tahu bahwa kesuksesan mereka didalam industri mode ini terjadi berkat seseorang? Sesesorang yang mungkin namanya belum pernah Anda dengar dan tak akan lagi Anda dengar. Charles Gallay lah figur tersebut, the owner of what was once the most avant-garde boutique in Los Angeles. Early in his career, Rick Owens hand-sew each garments from his collections before driving around to show his designs to influential fashion figures. Namun, tak ada satupun retailer yang membeli rancangan-rancangannya. Hingga akhirnya Charles Gallay menjadi stockist pertamanya di dunia. Coincidentally, he was also the man who placed the biggest order of Martin Margiela’s first collection! Who would’ve thought!

6. Sketches? What Sketches?

Nama Balenciaga tentunya sudah tak asing lagi di telinga. Rumah modenya yang kembali bangkit di tahun 1997 atas kepiawaian sang desainer Nicholas Ghesquière ini pun menjadi salah satu rumah mode yang paling dibicarakan sekarang, ketika Demna Gvasalia dipilih sebagai artistic director barunya. Namun, rumah mode tersebut pun tentunya tak akan tercipta jika bukan karena Cristobal Balenciaga. Kejeniusannya dalam menciptakan rancangan-rancangan struktural dan memodernisasikan siluet pakaian wanita pun tak bisa dipandang sebelah mata. His tailoring skills are second to none, earning him the nickname ‘designer’s designer’. Namun apakah Anda tahu bahwa ia tak pernah menggambar satupun rancangannya? He was so talented he doesn’t need to sketch any of his creations, he worked directly with the fabric; relying solely on the process of moulage and his endless imagination!